Beranda | Artikel
Hari Valentine : Hari Kemaksiatan Internasional
Kamis, 14 Februari 2019

“… kami sama sekali tidak melakukan ritual mereka. Kami hanya menjadikan hari ini sebagai hari untuk mengungkapkan rasa cinta kepada kekasih, tanpa ada sangkut-paut dengan acara keagamaan…”

Alasan di atas tidak dapat diterima. 2 konsekuensi yang perlu difahami:

1) Turut memeriahkan Hari Valentine dengan cara apapun, sama saja dengan meniru kebiasaan orang kafir.

2) Memeriahkan hari raya orang kafir, apapun bentuknya, meskipun hanya dengan main-main tanpa diiringi dengan ritual tertentu, hukumnya terlarang.

Wahai para pemuda pecundang! Jangan karena kalian tidak mampu menikah kemudian kalian bisa sewenang-wenang menggagahi wanita!


Wahai para pemudi yang hilang rasa malunya!
Jangan karena sebatang cokelat dan romantisme picisan Anda merelakan bagian yang paling berharga pada diri Anda.

Jika perbuatan kekejian sudah merebak dan dilakukan dengan terang-terangan di tengah-tengah masyarakat, maka Allah akan menimpakan kehancuran kepada mereka.” (H.R. Hakim).

“… Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang BODOH di antara kami? …”

(Q.S. Al-A’raf: 153 – 155).

Perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Kita berharap dengan banyaknya istighfar yang kita ucapkan di malam-malam ini, semoga Allah mengampuni hamba-hamba-Nya.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah

Diantara bencana yang menimpa pemuda muslim adalah sikap latah meniru kebiasaan orang kafir. Salah satu diantaranya, memeriahkan Valentine’s Day. Valentine’s Day, 100% datang dari orang kafir.

Kita semua sepakat bahwa Hari Valentine datang dari budaya non muslim. Terlalu banyak referensi yang mengupas tentang sejarah dan latar belakang munculnya Hari Valentine. Untuk itu, kami di sini hanya ingin meyakinkan bahwa Hari Valentine murni dari orang kafir.

Klaim alasan merayakan Hari Valentine

Kami mengakui bahwa Hari Valentine buatan orang kafir, namun kami sama sekali tidak melakukan ritual mereka. Kami hanya menjadikan hari ini sebagai hari untuk mengungkapkan rasa cinta kepada kekasih. Sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan acara keagamaan. Apakah ini tetap dilarang?


Jawaban atas klaim

Alasan ini tidak dapat diterima. Setelah Anda memahami bahwa Hari Valentine adalah budaya orang kafir, ada beberapa konsekuensi yang perlul Anda pahami:

1) Turut memeriahkan Hari Valentine dengan cara apapun, sama saja dengan meniru kebiasaan orang kafir. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ancaman yang sangat keras bagi orang yang meniru kebiasaan orang kafir. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,


Siapa yang meniru suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut.” (H.R. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hadis ini, kondisi minimalnya menunjukkan haramnya meniru kebiasaan orang kafir. Meskipun zahir (makna tekstual) hadis menunjukkan kufurnya orang yang meniru kebiasaan orang kafir. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Siapa di antara kalian yang memberikan loyalitas kepada mereka (orang kafir itu), maka dia termasuk bagian orang kafir itu’. (Q.S. Al-Maidah: 51).” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 1:214).


Pada hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan tujuan meniru kebiasaan orang kafir itu. Beliau juga tidak memberikan batasan bahwa meniru yang dilarang adalah meniru dalam urusan keagamaan atau mengikuti ritual mereka. Sama sekali tidak ada dalam hadis di atas. Karena itu, hadis ini berlaku umum, bahwa semua sikap yang menjadi tradisi orang kafir, maka wajib ditinggalkan dan tidak boleh ditiru.

2) Memeriahkan hari raya orang kafir, apapun bentuknya, meskipun hanya dengan main-main, dan sama sekali tidak diiringi dengan ritual tertentu, hukumnya terlarang.


Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, beliau menjumpai masyarakat Madinah merayakan hari raya Nairuz dan Mihrajan. Hari raya ini merupakan hari raya yang diimpor dari orang Persia yang beragama Majusi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau bersabda,


Saya mendatangi kalian (di Madinah), sementara kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyah. Padahal Allah telah memberikan dua hari yang lebih baik untuk kalian: Idul Qurban dan Idul Fitri”. (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan dishahihkan Syaikh Ali Al-Halabi).


Mari kita simak dengan seksama hadis di atas. Penduduk Madinah, merayakan Nairuz dan Mihrajan bukan dengan mengikuti ritual orang Majusi. Mereka merayakan dua hari raya itu murni dengan main-main, saling memberi hadiah, saling berkunjung, dan semacamnya. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang mereka untuk merayakannya, menjadikannya sebagai hari libur, atau turut memeriahkan dengan berbagai kegembiraan dan permainan. Sekali lagi, meskipun sama sekali tidak ada unsur ritual atau peribadatan orang kafir.

Oleh karena itu, meskipun Anda sama sekali tidak melakukan ritual kesyirikan pada malam ataupun siang Hari Valentine, walau Anda hanya membagi coklat dan hadiah lainnya, apapun alasannya, Anda tetap teranggap turut memeriahkan budaya orang kafir, yang dilarang berdasarkan hadis di atas.

Hari Valentine, Hari Kemaksiatan Internasional

Sudah menjadi rahasia umum, intensitas zina meningkat pesat di malam Valentine. Hari itu dianggap sebagai momen paling romantis untuk mengungkapkan rasa cinta kepada pacar dan kekasih.

Bukan hanya mengungkap perasaan cinta melalui hadiah coklat, tapi saat ini dilampiri dengan kondom. Allahu akbar! Apa yang bisa Anda bayangkan? Malam Valentine menjadi kesempatan besar bagi para pemuda dan mahasiswa pecundang untuk merobek mahkota keperawanan gadis dan para wanita. Malam Valentine diabadaikan dengan lumuran maksiat dan dosa besar. Lebih parah dari itu, semua kegiatan di atas mereka rekam dalam video untuk disebarkan ke berbagai penjuru bumi melalui dunia maya. Bukankah ini bencana besar?! Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun..

Di manakah rasa malu mereka?! Dimanakah rasa keprihatinan mereka dengan umat?! Akankah mereka semakin memperparah keadan?!


Wahai para pemuda pecundang! Jangan karena kalian tidak mampu menikah kemudian kalian bisa sewenang-wenang menggagahi wanita!


Wahai para pemudi yang hilang rasa malunya! Jangan karena sebatang cokelat dan romantisme picisan Anda merelakan bagian yang paling berharga pada diri Anda. Laki-laki yang saat ini sedang menjadi pacarmu, tidak pula dijamin menjadi suamimu. Bisa jadi kalian sangat berharap kasih sayang sang kekasih, namun di balik itu, obsesi terbesar pacarmu hanya ingin melampiaskan nafsu binatangnya dan mengambil madumu.


Bertaubatlah wahai kaum muslimin…


Ingatlah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jika perbuatan kekejian sudah merebak dan dilakukan dengan terang-terangan di tengah-tengah masyarakat, maka Allah akan menimpakan kehancuran kepada mereka.” (H.R. Hakim, dishahihkan beliau, disetujui Ad-Dzahabi).

Allahu Akbar, bukankah ini ancaman yang sangat menakutkan? Akibat perbuatan mereka yang tidak bertanggung jawab itu, bisa jadi Allah menimpakan berbagai bencana yang membinasakan banyak manusia. Ya… Hari Valentine, telah menyumbangkan masalah besar bagi masyarakat.

Pelajaran dari Kaum Nabi Musa ‘alaihis salam

Hal tersebut seperti kisah Nabi Musa ‘alaihis salam yang berdoa kepada Allah, karena kelancangan yang dilakukan kaumnya yang menyembah anak sapi. Allah abadikan dalam firman-Nya (yang artinya),

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.

Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.

Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang BODOH di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-A’raf: 153 – 155).


Karena itu, kami mengajak kepada mereka yang masih lurus fitrahnya. Berusahalah untuk banyak istighfar kepada Allah. Perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Kita berharap, dengan banyaknya istigfar yang kita ucapkan di malam-malam ini, semoga Allah mengampuni hamba-hamba-Nya.


Yaa Allah.., akankah Engkau membinasakan kami disebabkan ulah orang-orang di malam Valentine?
Ampunilah kami, Yaa, Allah..


Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewab Pembina Konsultasi Syariah), artikel www.KonsultasiSyariah.com, dengan penyesuaian.


Artikel asli: https://buletin.muslim.or.id/bt1507/